Sang Pemilik Burung



Namaku Adelaine Peacock... jangan merasa aneh pada namaku,sebenarnya itu bukan nama asliku,hanya nama kesenangan,nama asli ku adalah Adelaine Peashine...Oh! Sepertinya terdengar jauh lebih aneh dari nama palsuku, “sinar kacang?” haahh sepertinya saat mengandungku, mom tergila-gila dengan sup kacang kalengan bermerek “Peashine” yang rasanya aku jamin mirip seperti segulung lumut basah... yaiks, Freaks!
Aku mengubah namaku dengan nama belakang peacock karna aku sangat suka burung merak, tak ada burung yang lebih indah dibandingkan burung merak... oh, kusampaikan permohonan maaf kepada burung indah lainnya seperti Love bird, Maleo, Raccato, Bangau, Dove, dan tentu saja tuan Cendrawasih. Namun merak mempunyai warna indah dominan biru bercorak langka... berseni tinggi, sangat menakjubkan dan emmm... membuat mata silau... itulah yang kusuka,kata silau yang kupakai disini bukan silau kiasan,namun silau asli secara badaniah, ditunjukkan dengan mata menyipit hingga berubah menjadi linear atau bahkan hairline. Itulah yang aku alami setiap melihat seekor burung merak lantas terbelalak takjub kemudian. Jika direkam dalam kamera digital mungkin akan sangat konyol keliatannya.. Namun aku yakin tidak akan terlalu konyol, karena banyak yang bilang aku cantik,ya,sekonyol-konyolnya orang cantik, tetap saja cantik.. hahahahah (sepertinya kau ingin melempar ku dengan batu saat kau selesai membaca kalimat terakhir,oh,maaf jangan pakai batu,pakai kacang garing dibumbu garam saja,itu makanan kesukaan ku.. :P )
Aku suka sekali mengoleksi foto burung merak,bahkan ada satu poster besar 1,5 meter persegi dikamarku,bergambar seekor burung merak di pinggir kolam,mungkin menatap tikus? aku tak bisa melihat benda apa yang ditatap nya karena garisnya memotong tepat di tempat itu. Kira-kira apa ya? sudah lama aku penasaran,ya sudahlah,tidak ada hubungan nya dengan cerita yang akan kutulis,maaf sedikit melantur.
Pernah aku mencoba membuat sketsa burung merak buatan tangan sendiri,tapi hasilnya tidak bagus,ya ini memang tergolong nekad untuk mencoba,mengingat nilai seni rupa-ku tidak pernah lebih dari C sih.
Dulu pernah juga aku dimarahi mom habis-habisan karena ketauan mau membeli burung merak jantan lewat Amazon.com. ya ampun sayang sekali padahal aku dan Mr. Bryan sudah deal,terpaksa harus aku batalkan.Chus!
Tak habis pikir ,memangnya rugi apa kalau aku mau memelihara burung merak?Mom memang tidak pernah mengerti aku bahkan dia tidak tau kalau sebenarnya rencana ku itu turut dibantu dad ahahaha..rasanya puas sekali ,punya satu suara lebih baik daripada tidak sama sekali kan.
I have the biggest dream! That is to build the peacock castle!
****
Cerita ku sebenarnya berawal dari suatu musim kering di bulan Mei, kering nya minta ampun, sampai sumur keluarga kami pun yang biasanya berlimpah air, saat itu lumayan surut,terbukti dengan lamanya terdengar suara debur ember kayu kami yang ditarik menggunakan tali timba karet.
Untuk mandi saja aku harus menunggu mom mengambil air ke sungai,kalau mau cepat ya ambil sendiri,atau paling buruk terpaksa hanya dilap kain basah.. Yaiks! Aku tak akan pernah melakukan hal seperti itu (sebenarnya pernah,di suatu akhir pekan,tapi tolong percayalah kalau bau nya tidak separah yang kau pikirkan,sungguh harum percayalah,berkat parfum “Fery Elis Monalisa” ku.. oh,jangan menatap ragu seperti itu.)
Tanggal 24 bulan Mei yang panas,siang yang panas menyengat,sampai kau bisa merasakan perasaan seorang pekerja di mesin bahan bakar di kapal Titanic,emm Mary Celesto juga pasti panas.Aku pulang dari kampus,mumet dengan segala macam hitungan alogaritma yang menjadi mata pelajaran utama di jurusan ku,ditambah tetek bengek urusan perebutan persahabatan dan geng-geng penindas menyebalkan yang mengunci ku di loker Ana “Si Kaos Kaki Bau” oh ya ampun!
Yang aku mau saat aku pulang adalah suguhan lezat mie dingin melon yang bisa mengucuri dahaga ku. Namun yang aku temui hanya se cup yoghurt beku yang membosankan!! Ditambah rumah sepi,ada pesan di pintu kulkas bertuliskan “Mom dan Dad pergi ke kolam renang kota. Jangan mengomel. Tutup mulut! Tertanda MOM”
oh damn,what should I do in this rotten place? dancing or shouting? "
Sudah kuputuskan untuk menyusul mom dan dad ke kota,oh tidak uang ku takkan cukup... sialannya motor vespa ku dibawa jalan-jalan oleh kakak ku,Joe “Si Peminjam”
Ku tusuk-tusuk yoghurt beku itu dengan kesal sampai serpihannya berjatuhan ke jari kaki ku,dingin tapi lengket. Kuseruput sampai bersih tandas. Dan kulempar cupnya ke bawah sofa.Kemudian kuraih tas ransel biru dongker ku dengan gantungan burung merak tembaga yang menyilaukan. Kumasukan handuk kecil,peralatan mandi,peralatan cewe yang tak perlu kusebutkan lagi,notes,teropong,sebungkus besar kacang garing,dan boneka kesayanganku “Amour”. Kupakai baju dress lengan buntung warna putih berbordel bunga –bunga kecil. Kugerai rambut panjang ku, dan kusematkan jepit capung tipis berwana hijau kristal untuk pemanis.kupakai sneaker. Dan kupacu papan skate ku ke arah timur desa,ke arah sungai yang sepi,sungai dingin kesukaan ku.
Jalan berbatu kerikil membuat ku harus menjaga keseimbangan dengan sebaik-baiknya dan mengistirahatkan kakiku,takut jatuh dan lecet.
Aku suka sungai ini,kunamai “Sungai penyejuk”, sepi jauh dari para penguntit. Aku bisa mandi sepuasnya walau hanya memakai celana pendek dan kaos lengan buntung,menyenangkan sekali... kadang-kadang aku bisa membawa pulang ikan atau kepiting.
Kunikmati sentuhan air yang dingin di ujung jari kakiku.... kuteruskan sampai paha dan terendamlah aku... dingin nya benar benar pas.. kuraih sabun cair ku yang beraroma buah apel,kugosok belakang telinga,leher,dan daerah belakang lutut dengan batu kali bulat gepeng berwarna kehijauan yang lembut. Sedang asik-asiknya,hal yang tidak biasa terjadi,kudengar suara berkeresakan dari semak-semak! Kumenoleh dan kulihat bayangan berkelebat cepat berlari ke arah pohonan! Aku panik! Kuraih handuk,kuteriaki dia “Hey siapa kamu,br*ngsek! Penguntit! Jangan macam-macam! Si*lan!” segala ucapan keluar dari mulutku,habis ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Lagi-lagi kulihat bayangan itu berlari makin cepat mengitari ku! Aku yakin itu adalah bayangan manusia berbaju biru,dari ukurannya,sepertinya lelaki bantat! Oh tidak,menjijikan,pasti bermulut tebal,dengan lubang hidung besar mengendus-endus mangsa!
Buru-buru ku pakai dress ku,kukemas barang ku,dan ku genggam sebungkus besar kacang garing sebagai senjata yang kalau –kalau bisa kugunakan untuk menimpuk si penguntit. “Koak! ” terdengar pekik aneh dari arah pepohonan itu. Kulemaskan genggaman ku pada senjata ku. Kudekati dengan ragu,dalam hati ku yakin itu bukan lelaki penguntit,tapi seekor burung. Kutengokan kepala ku ke balik pohon sambil memasang muka galak.
 ... what a relieve,it's just a beautifull bird,....? peacock!!!!!” 
Wahh gila,kenapa ada burung merak secantik ini disekitar sungai penyejuk,dari rupanya,aku percaya burung ini benar-benar terawat,bulunya berkilau, mata ku benar-benar jadi hairline! Dengan refleks kupeluk burung cantik itu,hangat dan lembut, Ia berontak sambil berkoak-koak kaget.. aku ikut kaget! Langsung ku ambil telepon genggam berkamera ku dan cepat-cepat kuambil posisi gaya disamping burung itu. Belum sempat ter-click, burung itu lari sambil menyepak lenganku.. kukejar juga dia sambil terus menjepret dari arah belakang,oh ya ampun foto apa ini yang tertangkap , mungkinkah ku membawa pulang 12  foto “Pantat Burung”? Blimey....
Kukejar terus dia,penasaran sekali diri ini.. berbagai pertanyaan tanpa ujung terus bermunculan,dan mungkin bisa kurangkai menjadi sebuah kisah.Burung darimana dia? mengapa dia ada di tempat seperti ini yang jauh dari habitat aslinya? Mungkinkah dia penjelmaan pangeran tampan? Jika dia benar-benar pangeran,mungkinkah dia jatuh cinta padaku? Aku,jadi permaisuri kerajaan dongeng? Hahahaha kupacu kaki ku,dan juga semangat ku untuk mengejarnya. Tapi ya ampun,larinya cukup kencang,tapi untunglah aku terlahir dengan sepasang kaki yang panjang dan ramping,membuat ku cepat berlari. Kelebat angin berselibatan di kanan-kiri sisi tubuhku.Membuat ku makin cepat mengejar, hingga....
Aku kehilangan arah,aku tertinggal jauh dari si peacock cantik.Walaupun sudah susah payah aku mengejar,malah semakin jauh jarak kita. Tapi oh,thanks god! Jalanan berlumpur ini benar-benar menguntungkanku,ada tapak cakar burung disitu.. ada yang jelas,ada yang melesak sampai dalam,ada yang samar,ada yang tersamarkan daun kering juga! Tapi aku masih bisa mengikuti jejaknya dengan cukup lancar. Mungkin kalau aku terlahir seperti temanku, Berty yang malas menggunakan kaca mata tutup botol nya itu karena takut dibilang culun aku pasti tidak akan bisa mengikuti sejauh ini, haha.... terimakasih kepada Dad yang rajin membuatkanku jus wortel plus madu dan pancake saus wortel yang lumayan nikmat, alhasil mata ini sehat luar biasa...
Entah seberapa jauh aku sudah masuk ke semak-semak, jejak burung itu menyebrangi jalan setapak berbatu bulat dan kembali nampak di seberang jalan yang penuh daun maple,tentu karena ada sebuah pohon maple lebat disitu yang daunnya sedang berjatuhan ditiup angin dan akhirnya menari lincah di udara yang segar ini sebelum terjatuh ke tanah. Oh! Nyatanya ini bukan cuma pohon maple,tapi sebuah “Rumah Pohon Maple” ya... rumah pohon besar yang indah dimana dinding-dinding nya terlihat amat kokoh dan banyak tanaman hias yang bergantungan, nampak sebuah bendera berukuran 40 X 50 cm diikat pada sebuah tiang dekat jendela,berwarna hijau dengan pinggiran benang emas dan ditengahnya ada gambar embose jejak burung berwarna coklat nampaknya dari beludru. Dan di atapnya banyak burung merpati putih bertengger,ada juga burung lovebird berwarna-warni yang sedang asyik berpacaran,ada burung Gaok,burung Dara Mahkota,dan burung sesap dan oh lihat masih banyak burung lain yang aku kurang kenal bertengger di ranting-ranting pohon dan kalau kuingat aku sering melihat mereka lewat Discovery Channel. Tanpa sengaja aku berseru “WOW!”, mata ku berkedip dengan cepat dan ketika kedipan mataku tertutup ada sesuatu yang hangat jatuh di pelupuk mataku,basah,kental namun lumayan encer, dan ahh... baunya tidak enak! OW POOP! Sh*t! “burung kurang ajarrr....kampr*ttt!” itulah yang terucap secara otomatis dari mulut kecilku yang setiap malam sebelum tidurnya selalu kuolesi madu jeruk nipis dan akan bersih seketika esok harinya ketika aku terbangun. Kuusap mataku dengan bagian bawah dress putih bunga-bunga yang melekat di tubuhku.
“Nona! Maafkan kelancangan burung-burung ku...aku amat menyesal”
Terdengar suara berat dan kalem dari belakangku. Aku menoleh dan mendapati seorang lelaki muda yang aku taksir umurnya tidak akan jauh dari umurku tengah berdiri sambil tersenyum ramah. Kulihat dari bawah ke atas secara seksama, penampilannya nyentrik aku pikir.. tapi juga pantas untuknya. Sandal kayu hijau tosca yang dihias dengan biji kering seadanya,celana berbahan kain licin dan rapi berwarna putih dan sehelai baju yang ,aneh, bagaimana aku menjelaskannya disini.. yang jelas tangan panjang seperti jas,berkancing,mempunyai banyak saku beresleting,ada jahitan dan tambalan di sana sini berwarna biru gelap,dia juga memakai sepasang sarung tangan karet tebal berwarna kuning sambil membawa sekop dan sesuatu yang nampak seperti semprotan. RRRR.....walau aneh tapi dia tampan.
Dia tersenyum dan berkata dengan santai “Sedang bersih-bersih kandang burung merak nona,rutin seminggu sekali,kalau tidak akan semakin menumpuk nantinya,hhe maaf kalau aku membuatmu takut”
“Emmh,ah,tidak apa-apa” aku panik.
“Well,ayo berkunjung ke rumahku,dan buka bajumu nona,aku merasa malu dan bertanggung jawab atas itu”
“Aaa? Buka baju?”
“Tentu saja tidak disini nona,dirumahku,dan bukan dikamar tidurku,aku tidak sejahat itu,tenanglah aku bukan penguntit jahat yang kebetulan mempunyai tampang cakep”
“HWA?” my god,dia bisa membaca semua pikiranku ah! Aku harus berhati-hati untuk tidak berpikiran aneh-aneh,siapa yang tahu kan kalau sebenarnya dia jahat?
“sayangnya,semua orang tau kalau aku orang baik,dan tidak jahat nona manis. Keep calm and follow me... ” dia lagi-lagi tersenyum manis,senyum tanpa beban,senyum yang ikhlas,dan senyum yang bisa membuat orang-orang jatuh cinta,ya,aku rasa itu yang terjadi sekarang padaku,padahal aku sulit jatuh cinta,cukup sulit setelah mantan pacarku.. sebut saja E memutuskanku demi cewe lain yang tidak lebih cantik dari ku dan cewe itu mengejek ku “Kacang kalengan mudah dilupakan  dan masuk saja ke tong sampah !” sambil berpose : mulut terbuka setengah,lidah sedikit terjulur,plus telunjuk yang berkuku panjang menunjuk ke mulutnya, oh satu lagi sambil sedikit menungging! Ahhh! Pose menjijikan!!!!!!
Cukup jangan kita bahas lagi,aku bisa menghabiskan berton-ton kertas untuk menulis apapun yang berhubungan dengan orang yang ku benci. Dan kita harus menghemat kertas untuk mencegah global warming agar tidak semakin parah bukan?
Ah OK,back to the story... kami hanya berjalan beberapa langkah dan sampai pada sebuah gerbang lebar namun tak cukup tinggi yang hampir seluruhnya tertutup tumbuhan sulur berbunga kecil kuncup berwarna merah dan kuning. Dia mendorong pintu gerbang itu hingga terbuka lebar dan menyeruak masuk kedalamnya,hingga suatu waktu bahunya yang bidang tidak lagi bisa menghalangi pandanganku pada sebuah rumah kayu yang amat luas penuh tumbuh-tumbuhan hias yang segar dan kandang-kandang yang nampak seperti sangkar burung kayu lengkap dengan tempat tenggerannya,namun ini big size.. It's Huge! Yappps! Cool! Ada dua kandang besar di sisi kiri dan dua kandang lain yang sedikit lebih kecil di sisi kanan rumah,dan ditengahnya kolam ikan, penuh ikan koi sebesar paha anak kecil berkecipakan lembut harmonis dengan suara air mengalir dari pancuran berbentuk burung pelikan merah jambu yang mulai pudar terguyur air hujan dan terpapar sinar mentari. Rupanya tempat ini memiliki cukup banyak air.
Aku terpukau,dan tanpa sadar dia sudah ada didepan pintu dan melambai ke arahku... “In here nona... kau nampak lambat sepeti siput kalau begini!” dia terkekeh geli melihat tampangku yang oon seperti orang baru jatuh dan tertimpa tangga besi lalu hilang ingatan. Aku berlari kecil sambil menenteng bawaan ku yang tadi sempat mau merosot jatuh dari pundak.
Welcome to my home...” ucapnya sambil membuka pintu . Ckling! Sebuah lonceng perak yang tergantung di pintu berdenting merdu, aku masuk dan mengagumi ornamen-ornamen cantik yang tersebar di seluruh penjuru mata angin. Dinding yang penuh lukisan burung-burung cantik,piring-piring hias bergambar aneka tempat-tempat terkenal di seluruh dunia, kertas memo berwarna oranye dan hijau motif kotak-kotak tertempel teratur dengan solatip bergambar kepik dan bendera Amerika,dan lagi-lagi banyak tanaman hias merambat yang ditanam di cerek polkadot, di mug seng, di penyiram tanaman yang bolong dan bahkan di panci. Cukup unik aku bilang,dan aku suka.
Di dinding lainnya terdapat seperempat dinding gabus yang dipakai untuk menempel kertas-kertas yang nampak seperti desain kandang burung dan semacamnya,beberapa foto-foto,dan sebuah peta dengan bendera-bendera kecil warna warni di berbagai titik,ada 12 trophy berjejer rapi di rak dan figura-figura berisi daun kering mengelilingi rak itu, menjadi seperti bingkai. Aku sibuk sendiri mengamati lantai, sebagian penuh sudut ruang depan dan beberapa lorong yang membuatku penasaran.
Lelaki itu malah sudah menggantung rapi bajunya di dekat pintu masuk, ternyata itu hanya sebuah jaket bersleting banyak. Dibalik itu ia mengenakan kaos santai merah berbunga kuning yang sangat khas pantai di Hawaii. Dia terlihat lebih normal dengan setelan ini. “Nah silahkan duduk-duduk,mungkin sambil nonton TV ada acara masak memasak Sara Quinn kalau tidak salah,aku akan mencarikan baju yang pas untukmu.Anggap saja rumah sendiri..” dia pun berjalan ke lorong selatan,dan menghilang lalu kembali lagi sambil menenteng sehelai baju. ”Aku harap ini pas di badanmu,aku kira Mommy punya badan yang sama seperti mu sewaktu muda nona, maaf kalau sedikit ketinggalan zaman dan tidak masuk trend” ucapnya murung.
Nevermind,aku bukan cewe yang taat fashion,thanks anyway. Dimana aku bisa ganti baju?”
“Pintu ke dua dekat jam tik-tok!” ujarnya, aku mencari jam tik-tok seperti yang dia bilang.
OH Boy! Mengapa kamu tidak bicara saja kalau kamar nya tepat di depan mataku!” ujarku jengkel.
“Heheheh” kekehnya dengan cute.
Tak lama aku keluar dengan pakaian yang boleh dibilang lumayan,aku suka baju model ini,model lollita dress dengan banyak renda cantik disana sini,namun sedikit kurang pas dengan sepatu bertali ku ini.
emm,nice!” ucapnya hampir tak terdengar,ini membuat ku tersipu jujur saja. Aku kembali duduk di sofa dan mengecek bungkusan kacang garing,dan mulai memakannya. Pengejaran burung merak cantik itu membuat ku lelah dan lapar. Ya ampun,iya,aku mengejar burung merak! Dimana dia? Aku tersentak dan sedikit serpihan kacang nyangkut di tenggorokanku “Uhuk.. uhukk... uhukk uhukkk! UUHhhuhk..ehh emmm hey,namaku Adelaine,Adelaine Peashine...salam kenal, aku tiba di tempat ini gara-gara seekor burung merak yang menampakkan diri di sungai 4 km dari sini”
“Edmund! Itu pasti edmund,aku sangat pusing dibuatnya.. sudah tiga kali dia membawa orang ke sini gara-gara ketampanannya.”
“Jadi dia tinggal disini,burung itu?”
Exactly,salam kenal balik,aku Ando pemilik tempat ini,pemilik Edmund yang suka melarikan diri,ini memang salahku,dia sering marah kalau aku telat memberi nya makan,aku agak lemah dalam ketepatan waktu,lagipula aku hanya memiliki dua mata,dua kaki,dan dua tangan,ditambah satu mulut yang susah memaki. Jujur aku kelelahan mengurus semua burung ini sendirian. Papaku di Colorado tidak mau memberikan ku tenaga pembantu karena sebuah kejadian di musim semi tahun lalu,pembantu kami mencuri burung hampir setengah dari milik kami dan menjualnya ke luar negeri,padahal kami berdua amat menyayangi burung-burung kami dan mengurus mereka untuk perkembangbiakan demi lestarinya populasi mereka,bukan untuk keuntungan”
“Hebat sekali.” aku bedecak kagum menatap wajahnya yang penuh aura positif,cerdas,dan penuh kasih sayang.
“Yaps bisa dibilang begitu,btw, you looking soo hungry!” lalu dia mengedip lucu,dan berjalan ke dapur cantik berbau harum. Mengeluarkan sayuran dari kulkas,membasuhnya di kran,memotongnya rapi dengan ukuran yang sama besar sama kecil,lalu memecah beberapa butir telur dan mengocok nya dengan susu,keju,dan berbagai bumbu dari botol kaca berbagai ukuran dengan penutup gabus,memasukan cacahan daging sapi dan sayuran kemudian macaronni lalu me-marinate mereka dengan garam dan lada bubuk,dan akhirnya mengunci mereka didalam oven listrik. Tak lama bau harum menguar memenuhi seluruh ruangan, disusul harum saus pasta yang diraciknya dengan begitu cepat.
here we go.. selamat menikmati” dipotongnya omelete panggang yang harum itu dan memberikan potongan paling besar pada piring ku,menambahkan banyak-banyak keju parut diatas nya dan menuang saus pasta segar dengan begitu cekatan dan melakukan hal yang sama pada bagiannya. Aku sudah menghabiskan separuh nya dengan cepat karena lapar,dan tentu saja karena rasanya lezat saat dia kembali membawa cola dingin dengan susu kental manis di dasarnya,dia bilang ini “Es Mega Mendung”.
“Puas untuk santap sorenya nona? Kalau kau mau aku bisa mengantarmu pulang”
“Puas sekali chef, kau berbakat untuk menjadi koki bintang 9! Tapi sebelum pulang aku ingin bertemu Edmund,dan hehe,,, berpose barang satu sampai dua pose dengannya,kau tau,aku pengagum burung merak.”
“berapa pose pun silahkan nona,aku akan buat Edmund nyaman saat berada di dekatmu.Ayo kita ke kandangnya..” dia mengenakan lagi jaket bersletingnya dan membawa segenggam biji dari salah satu dari belasan saku nya dan membaginya pada ku,saku nya bertuliskan huruf P kecil lalu disusul kd 2 “Ini makanan burung,kita jebak dia. haha”
Aku balas dengan senyuman rencananya itu,ini luar biasa mengasyikan!. Kandangnya ternyata adalah salah satu dari 2 kandang besar di sisi kiri, banyak sekali merak disitu,dengan banyak semak-semak dan tempat minum berupa kolam batu dingin.Tidak seperti di kandang,nampak seperti habitat aslinya. “EDMUNDDDD..kemari boy! Raktutuk raktukk tuukk tuk kerrr kerr” dia berseru aneh dengan suara tinggi. Seekor burung merak berlari ke pelukan nya,ya itu burung cantik tadi. “Bagus boy.. ini upahmu!” sambil melempar dua biji ke udara yang dengan cepat disantap Edmund. Aku mencoba ikut melempar namun Edmund sepertinya masih gengsi.baiklah,fine.. dasar burung so’
Melihat ku cemberut dan menggerutu dia tertawa dengan lepas... tawanya renyah. “Hey Edmund,dengar,kau tau,ada gadis manis ingin berfoto denganmu saat ini,ayolah jangan jual mahal seperti itu,lihat dia cantik bukan..seperti putri merak betina?” tunjuknya padaku. Aku malu-malu lagi. Seperti mengerti Edmund melangkah ragu ke arah ku dan mengeluskan jambulnya ke tanganku dengan lembut. Seperti seekor kucing yang mau di belai.
Akhirnya aku pulang diantar Ando,lelaki yang baru ku kenal,tadinya mau melewati jalan yang lain ,yang lebih cepat namun kami memutuskan untuk pulang lewat jalan yang sama dari arah sungai penyejuk,karena aku harus membawa pulang papan skate ku yang aku lupakan.Kami berbincang cukup lama karena mengendarai motor skuter nya yang lamban dengan suara seperti kaleng yang digusur mobil truk di jalan berbatu.
Mom dan Dad belum pulang,pasti ke supermall dulu. Hanya ada Joe dan kekasihnya yang sedang asyik ngemil pizza triple cheese plus olive sambil menonton Titanic,film romantis sepanjang zaman. Aku berdehem,Joe menoleh dan menawariku sepotong pizza,dan aku diam-diam mengambil dua potong lagi ,ketahuan,dan akhirnya kena timpuk bantal kursi yang lumayan keras. Cewenya tetap anteng saja nonton adegan Jack berdansa dengan gaya khas di lantai dansa.Aku ngeloyor ke kamar sambil menenteng satu potong pizza yang belum sempat dimakan dan sebotol dingin teh ocha.
Setelah mandi dengan sedikit bubbles dan berganti baju dengan piyama pink kesukaanku,aku menggantung baju lolitta di deretan paling depan. Because i love it.... aku berbaring sambil menatap foto-foto lucu di camdig ku. Disitu ada 28 foto,kebanyakan aku dan si burung Edmund,tapi sebenarnya aku malah lebih suka kalau Ando ikut berfoto,bagaimanapun aku tetaplah cewe yang tak sanggup menahan hadirnya rasa suka kalau ada cowo cakep berbuat baik dan sopan seperti itu. Aku jadi senyam-senyum sendiri mengingat cowo unik itu, :D haa sudahlah ini wajar bukan? Aku duduk dan meraih laptopku yang penuh dengan stiker girlies ke pangkuanku lalu meng copy semua foto itu dan menyimpannya di folder baru yang istimewa. Aku jadikan foto aku dan Ando yang sedang memeluk Edmund bersamaan sebagai background desktop ku sekaligus wallpaper handphone clam sheel ku, oh iya,foto “Pantat Burung ” tidak aku hapus dan tetap kumasukan ke folder yang sama kok.
Akhirnya aku ngorok sambil memeluk si Amour,boneka panda yang lucu.
****
2 minggu lewat dan kami hanya berhubungan via handphone dan terkadang email. Aku menerima beberapa lampiran foto dari nya. Foto bayi burung yang baru menetas,ekspresi burung yang kekenyangan,kandang yang berbeda tatanan dengan beberapa tanaman hias baru,tumbuhan taoge yang mulai tumbuh besar,dan ini yang paling kusuka, foto saat dia melempar makanan burung ke udara, sungguh manis.Rencananya aku akan kerumahnya lagi tanggal 4 tapi ditanggal 4 itu dia malah berkunjung ke rumah ku, Joe dengan puasnya meledek ku “hohohohoho siapa ya kali ini yang akan menonton Titanic sambil kecurian pizza?”
“Hey, kami tidak akan nonton film penguras air mata itu dan tidak akan memesan pizza yang membosankan!”
“Membosankan katamu? Saking membosankannya sampai kau mau nambah lagi,dasar cewe tukang makan”
“Biar aku banyak makan kan aku tetap sexy,tidak melar seperti cewe mu”
Hey... what did u say d*mn u 
“:P wlllleeeeeeeeeeeeeeeeeeee”
Ando hanya bisa menatap heran bergantian bolak balik padaku dan pada Joe,tak jauh berbeda dengan melihat Anjotta vs Amerta atlit ping-pong universitas bermain dengan pelik di musim panas.
Aku membawa nya ke kamar tidurku tanpa menutup pintunya,ini karena sungguh tidak ada ruangan lain yang bisa memberi ku privasy.Semua tempat diambil alih oleh Joe,teras belakang dia sebut “Bengkel Motor Joes si Ganteng” padahal objek nya saja selalu hanya motor vespa ku, dasar si peminjam habis-habisan... huh mengapa dia tak juga membeli sebuah motor.... dia bilang dia akan membeli motor RXX King yang kecepatannya seperti angin,bodynya kuat,dan bla bla bla... tentu ujungnya DILARANG MEMINJAM! Dasar si Joe itu.Harusnya dia buka kamus,apa itu definisi meminjam dan meminjamkan! Teras depan yang yang sangat pas untuk ngobrol dia sebut “Tempat Kongkow-Kongkow Kawan Joe si Ganteng”. Ruang TV dia sebut “Ruang Belajar Pilihan Joe si Ganteng”. Dapur dia sebut “Amunisi Utama Joe si Ganteng” .Hey,mengapa kau tak ambil alih saja sekalian WC dan harusnya kau sebut “Habitat Alami Joe si Tukang Menyisakan Poop!”
Dikamarku yang berada dekat ruang tamu,ia duduk di kursi bulat berbulu dekat meja rias dan mengamati kamarku yang baunya harum apel. Dia akhirnya tau kalau aku peacock mania,karena banyak sekali pernak-pernik peacock di kamar ku,bahkan sandal tidur pun. ”aku suka sandal tidurmu..” heheh aku terkekeh,dan memutuskan untuk memberi kan sepasang sandal tidur yang sama yang aku simpan di sudut lemari sejak Joe menolak nya dengan sarkastik.Dia begitu senang menerimanya. Dan memberikanku pelukan secara spontan..! aku benar-benar senang hari itu. Sejak itu hubungan kami makin dekat karena kesamaan kesenangan dan banyaknya perasaan nyaman setiap kami bertemu.
Suatu siang di bulan September aku mendapat sms kalau Ando jatuh sakit. Aku selaku orang terdekatnya saat ini,memutuskan untuk menjenguknya dengan membawa serantang sup kaldu telur,buah-buahan,dan kartu GWS dengan gambar suster bersayap yang aku buat sendiri,sudah kubilang aku kurang bisa menggambar,kata mom suster itu lebih mirip seperti pilot nenek-nenek yang sudah pensiun dan bersikeras untuk terbang. Saat itu dia nampak pucat sekali,badannya cukup panas. Aku yakin ini sangat berat baginya untuk tetap bertahan mengurusi banyak sekali burung-burung tanpa teman untuk membantu pekerjaannya. Mulai saat itu kuputuskan untuk membantu sampai dia sembuh. Dia sangat gembira mendengarnya dan menggenggam tanganku dengan erat sambil menitikkan air mata.
“Hey, I will help u if I can” sambil kuusap derai air matanya
“Thanks a lot, You are the best”

Setiap harinya selama hampir sebulan lebih beberapa hari,aku selalu datang ke rumah nya pagi-pagi buta dan pulang sekitar pukul  7 malam dengan menyediakan banyak makanan untuk burung umumnya dan untuk Ando khususnya, setelah seharian penuh mengimunisasi burung,mengecek pakan dan air yang harus selalu ada setiap waktu,menyortir berkarung-karung pakan burung yang baru datang 1 minggu setelah aku mulai membantu,mengumpulkan bulu burung yang rontok untuk selanjutnya dijadikan bantal-bantal empuk,menguras 4 kolam batu,menyiram tanaman,plus beres-beres rumah utama dan rumah pohon mapple.belum lagi mengurusi Ando yang sedang sakit,memberinya obat secara teratur,melap tubuhnya dengan kain basah hangat,membantunya ganti baju,memasak untuknya,dan mengisi kantung tidur nya dengan air panas.Ya ampun,aku tak sanggup membayangkan betapa lelahnya ia melakukan pekerjaan-pekerjaan ini,yang paling melelahkan adalah saat membersihkan kandang burung dan mengecek telur-telur burung yang baru menetas untuk memberikan mereka lampu yang cukup hangat agar tidak kedinginan di bulan Desember ini,
11 Desember
Saat aku membuka pintu berlonceng itu ,untuk seperti biasanya menyediakan sarapan buat Ando.Dia berlari dengan piyama dan sandal tidur meraknya,kearahku,memeluku dengan hangat dan menuntun ku untuk menyantap sarapan pancake mentega saus maple dan susu butterschot panas yang asapnya mengepul-ngepul. Sarapan yang jauh lebih nikmat dari setangkup sandwich,sup panas,dan susu coklat yang kubawa.
See, aku sudah sehat,semua berkat kamu Adelaine.. kau tak pernah lelah merawatku”
“Aku sungguh senang kau akhirnya sembuh Ando.. sungguh...” aku terharu
“Hey,kenapa kau menangis?” Ando kaget
“Aku hanya sedih tidak mempunyai alasan lagi untuk datang sepagi ini ke rumah mu dan pulang sampai malam untuk menjagamu” aku keceplosan
“Hey.. memangnya aku akan membiarkanmu kabur dari ku begitu saja?”
“m.mm..maksudmu?” isak ku heran
“Yang jelas aku tak akan membiarkanmu melakukan hal yang sama seperti ini pada lelaki lain”
“Bahkan pada tentangga ku kakek Sam yang sudah renta?”
“Bukankah dia memiliki seorang istri?”
“Iya,ada nenek Catherine”
“Nah,jawabanku tidak! Dia kan punya istri,enak saja harus kamu yang urus”
“Hahahah.... lalu karena aku telah mengurusmu,aku istrimu begitu?” isakku sudah berhenti
“Ya,sebentar lagi kalau kau mau....” ucapnya manis sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku
Kalau aku menjadi Ando tentu aku akan tidak tahan untuk tertawa terbahak-bahak melihat wajah seorang cewe yang sangat stupid,keheranan,dan kebingungan,dan akan mengatakan “December Fool.....” tapi ini beda dia tidak melakukan hal itu malah mengecup pipiku dengan cepatnya sampai aku tidak menyadarinya
“Hey,mungkin ini crazy,tapi aku bilang,aku sangat ingin menjadikanmu istriku.Jujur aku menyukai semua yang ada pada dirimu dan yahhh... aku terpukau pada sisi wanita mu,mengurus orang sakit itu tidaklah mudah ditambah harus mengurusi kandang burung yang bau.Maafkan aku soal itu,dimana lagi aku bisa mendapat wanita yang sesempurna kamu.Intinya dan harus kutegaskan,bahwa I ... mmm I REALLY LOVE.... U, Adelaine Peashine”
“Ah!... I Love you too Ando Paviollo” ucapku dengan mata berbinar.
“Dengan ini,aku melamar mu.Dan memintamu dengan sungguh-sungguh untuk menjadi istriku” ujarnya dengan lembut dan mengeluarkan sebongkah cincin emas bermata bebatuan yang berbentuk burung merak,oh cantiknya... cantik sekali...dengan tubuh dari batu Chrysoprase hijau keemasan dengan paruh dan mata dari Giok merah dan kuning,dan ini  yang paling kusuka sayap indah dengan serat-serat tembaga tipis dengan berbagai batu sebagai penghias,batu Akik aneka warna,Alexandrite coklat kemerahan,batu darah hitam,Lapis Lazuli berbintik emas,Ruby,Topaz putih dan hijau,dan beberapa bongkah Zamrud hijau..
“Ohh... cantiknya Ando,cantik sekali....darimana kau mendapatkan cincin secantik ini”
“Aku yakin kamu pasti suka,hey aku ini calon suami yang tak kenal lelah,tidakkah kau menyadari banyaknya batu-batu cantik dari seluruh dunia yang aku kumpulkan dalam sebuah toples kaca besar di dekat TV...itu untuk kubuat cincin pernikahan untuk gadis yang beruntung. ”
“O! Aku kira itu hanya manik-manik aneka warna yang kau pakai untuk meronce sandal-sandal kayumu,kamu kan suka melakukan hal aneh-aneh pada apa yang kamu kenakan”
“Hey! Ini cool,masa kau sebut aneh!”
“Aku hanya bercanda honey,jangan cemberut seperti itu,kau nampak seperti burung hantu gendut”
“Yay! Kau sudah berani sebut aku Honey!.. manisnyaaa...” ucapnya,membuatku luar biasa malu.
2 tahun kemudian masih di 11 Desember
Kami berdua duduk di altar putih dengan beberapa helai burung merak berbentuk kipas di tempat duduknya yang perlu dicatat tidak kami cabut secara paksa dari Edmund atau ke 15 burung merak  lainnya. Ando saat itu sangat gagah dan tampan,seperti pangeran dari negeri dongeng atau manga dari Jepang. Ia mengenakan pakaian yang paling rapi,paling wangi,dan paling normal. Setelan putih bersih dengan kancing coklat di lengan dengan sematan bulu merak kecil di sakunya,dasi kupu-kupu berwarna senada,sepatu kulit putih mengkilat.Aku sendiri yang nampaknya nyentrik namun tetap serasi dengannya mengenakan gaun lolita selutut berbahan halus dan jatuh berwarna putih dengan motif daun hijau transparan,plus selop kaca bening dengan bebatuan warna-warni didalamnya,memakai kalung dengan bandul lonceng yang bisa berbunyi,mahkota angsa putih dengan bulu-bulu disetiap bagian,cincin merak penikahan tersemat di jari ku yang terbalut sarung tangan jaring berwarna putih ,dan sebuah gelang kaki berlonceng kecil berwarna putih. Kami duduk dengan bahagia menatap tamu yang jumlahnya hampir seribu,yang menikmati hidangan,anak kecil yang berlarian mengejar kupu-kupu dengan mulut berlepotan sorbet leci,kakek nenek bercengkrama di dekat kolam ikan sambil menunggu pramusaji menyajikan sosis panggang saus mangga, bapak-bapak pembisnis yang terus memaksa papa Ando yang datang dinihari dari Colorado untuk menjual burung Cendrawasih nya ke Philipines, Ibu –ibu yang tak henti-hentinya mengemil dan ada beberapa yang mencuri beberapa tangkai bunga hias,Mom yang sedang mengecek jumlah makanan yang harus terhidang,dan Dad yang sedang melarang Joe untuk minum terlalu banyak lagi bir karena istrinya selingkuh dengan lelaki yang lebih mirip Leonardo di Caprio... kasihan sekali Joe aku harap dia mau menerima pizza extra smokked beef plus letuce and salad cheese dan berkaleng-kaleng soda untuk temannya malam hari,dan aku harap istrinya mau kembali padanya,kau tau.Joe suami yang baik. Aku dan Ando berasa seperti pangeran dan putri dari negeri burung hari itu. Dan aku yakin setelah hari ini,kami akan melewati hari-hari indah di Peacock Palace kami berdua.
Dan angin meniup bendera tinggi dekat rumah pohon maple yang bertuliskan “Wedding Party Adelaine & Ando ,we share our happiness and joy. PS: we invite all people who want to cherish our moment .no ticket, and free”  sehingga bendera itu berkelebat lembut.

by: Catkey D. h

Komentar

Paling banyak dibaca 🐞